Wawancara Imajiner dengan D.N. Aidit

Orang itu tersenyum masam ketika saya menunjukkan deretan film G30S/PKI di Youtube. Ia bertanya apakah semua orang menonton film tersebut. Saya bilang tidak. Dulu memang menjadi tontonan wajib, tapi sekarang siapa pula yang mau menonton film berdurasi empat jam dengan resolusi dan pencahayaan yang buruk begitu? Bikin ngantuk saja.

Ia terdiam. Matanya jauh menerawang. Mungkin, ia tengah mengenang bagaimana rasanya berpidato di hadapan ribuan kader dan pengikut partai yang dahulu ia pimpin. Dialah D.N. Aidit, pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sosok yang sudah lama mati, namun berkesempatan saya wawancarai secara eksklusif. Apakah ini sebuah keberuntungan atau justru malapetaka, entahlah. Simak saja obrolan saya dengan Bung Aidit.

Q: Apa kabar, Bung Aidit?

A: Tentu saja tidak baik, saya sudah lama mati

Q: Ah, maaf, saya tidak bermaksud menyinggung

A: Yah … apa boleh buat …

Q: Indonesia memperingati G30S/PKI tiap tiga puluh September, pendapat Bung?

A: Oh ya? Bagus sekali

Q: Apanya yang bagus sekali?

A: Artinya PKI berhasil

Q: Berhasil?

A: Ya, berhasil menanamkan ketakutan bagi rakyat Bung Karno

Q: Maaf, Bung, Presiden Indonesia bukan Bung Karno lagi

A: Oh ya? Lalu siapa? Soeharto?

Q: Sesudah Bung Karno memang Pak Harto, tapi Pak Harto juga sudah lama lengser

A: (…)

Q: Soal itu agak ruwet, tapi jabatan presiden selalu berganti-ganti, dan memang seharusnya begitu, bukan?

A: Saya kira kalau berhasil menjabat, Soeharto akan menjabat selama-lamanya. Kalau begitu selamat

Q: Terima kasih, Bung. Tapi saya kira Bung salah jika menganggap PKI berhasil menanamkan ketakutan. Tiga puluh September itu hanya cara mengingat sejarah

A: Mengingat sejarah sekaligus merayakan kemenangan pemerintah?

Q: Sepertinya begitu. Mohon Bung Aidit jangan tersinggung

A: Ah, tidak apa-apa. Lagi pula komunisme tidak mati

Q: Maksud Bung, PKI masih ada?

A: Harusnya saya yang bertanya, kalian menumpas habis orang-orang PKI atau menyisakan beberapa?

Q: Saya tidak tahu, Bung. Saya cuma wartawan

A: Ah, maaf, saya terbawa suasana. Sejenak tadi saya menganggap Anda itu orang pemerintahan atau militer

Q: Saya mengerti perasaan Bung Aidit. Tapi … PKI betulan masih ada, Bung?

A: Bagaimana mungkin masih ada kalau sudah kalah?

Q: Tapi isu kebangkitan PKI sering terdengar belakangan ini ….

A: Itu ketakutan yang diciptakan oleh pemerintah dan militer sendiri. Kami yang sudah mati ini mana bisa bangkit lagi

Q: Tapi … tadi Bung bilang kalau komunisme tidak mati?

A: Ya, memang, ideologi tidak akan pernah mati, tapi partai kami sudah lama mati

Q: Ah … (mengangguk-angguk)

A: Tapi kalau yang dimaksud dengan “bangkit lagi” itu arwah-arwah para korban, ya, bisa jadi

Q: Para korban? Maksud Bung … tujuh jenderal itu?

A: Hah? Bukan, bukan. Maksud saya … mereka-mereka yang mati karena dituduh sebagai partisan PKI. Kan banyak?

Q: Maaf, Bung, saya baru dengar soal itu

A: Memang tidak diajarkan dalam sejarah?

Q: Yang saya pelajari … PKI melakukan pemberontakan, pemerintah—dibantu militer—menang, lalu PKI ditumpas habis

A: Wah … bagian paling tragisnya tidak diajarkan, ya?

Q: Memang ada yang lebih tragis dari kematian Bung Aidit?

A: (tertawa) Anda ini jangan mengejek saya

Q: (tertawa)

A: Ketika penumpasan PKI, banyak kawan-kawan saya, buruh, tani, mahasiswa, dan yang lainnya dituduh sebagai partisan. Mereka diculik, disiksa, dan dibunuh meski tidak tahu apa-apa

Q: Bung yakin mereka tidak tahu apa-apa?

A: Mereka cuma orang-orang baik yang bersikap ramah terhadap orang-orang partai kami. Tidak ada hubungannya dengan gerakan partai. Lagi pula Tuhan, kan, tidak melarang kita bersikap ramah, bahkan dengan penjahat sekalipun

Q: Bung Aidit percaya Tuhan?

A: Kenapa tiba-tiba ke sana?

Q: Tadi Bung menyinggung soal Tuhan

A: Lalu?

Q: Bukannya komunis tidak percaya Tuhan?

A: (tertawa) Anda ini ada-ada saja, teori dari mana itu?

Q: Karl Marx pernah bilang kalau agama itu candu. Setidaknya itu yang saya pelajari, Bung

A: Sebetulnya guru sejarah Anda itu siapa?

Q: Saya lupa, sudah lama sekali

A: Karl Marx bilang kalau agama adalah candu itu, kan, pada konteks saat ia hidup. Saat itu agama memang digunakan untuk mengendalikan para buruh. Para pemuka agama bilang kalau penderitaan di dunia akan digantikan dengan kemewahan di surga. Akibatnya, para buruh berharap terus-menerus di tengah penderitaan dan ketidakadilan yang mereka alami. Makanya disebut candu. Dalam konteks itu, agama hanya menenangkan tanpa memberikan jalan keluar

Q: (…)

A: Komunisme itu intinya … terciptanya masyarakat tanpa kelas: Tidak ada yang bermewah-mewahan, tidak ada yang menderita. Sama rata sama rasa

Q: Berarti semua hal harus dibagi rata, termasuk ranah pribadi?

A: Ranah pribadi bagaimana maksud Anda?

Q: Yah … kepunyaan pribadi. Istri, anak ….

A: Istri dan anak itu, kan, manusia. Bagaimana bisa dibagi-bagi?

Q: Saya dengar orang komunis berbuat demikian. Satu perempuan milik bersama

A: (mendengus) Anda ini sengaja mau bikin saya marah dan bangkit dari kubur ya? Teori dari mana lagi itu?

Q: Jangan tersinggung, Bung. Saya cuma mengonfirmasi. Itulah hal yang sering dikatakan orang-orang

A: Saya tidak tersinggung, cuma geli saja. Lagi pula di dalam kubur sudah enak. Buat apa bangkit lagi? (tertawa)

Q: Bisa-bisa nanti Bung dieksekusi lagi, ya?

A: Lagi-lagi Anda mengejek saya

Q: (tertawa) Maaf, Bung. Jadi … bagaimana?

A: Apanya yang bagaimana?

Q: Soal istri dan anak

A: Sudahlah, itu terlalu konyol untuk saya klarifikasi. Ngomong-ngomong, wawancara ini nanti terbit di mana?

Q: Entahlah, Bung. Nanti saya carikan media yang berani menerbitkan

A: Kenapa begitu?

Q: Yah … isu tentang PKI masih sensitif

A: Kan … apa saya bilang, kami berhasil menanamkan ketakutan

Q: Dengan berat hati, nampaknya itu harus saya akui. Orang-orang bahkan punya istilah sendiri. Bung mau tahu?

A: Apa?

Q: “Hantu PKI”

A: Mereka tidak salah. Memang benar, kan, saya sudah jadi hantu

Q: (…)

A: (Berbisik) Ngomong-ngomong, katanya presiden Anda yang sekarang, punya hubungan dengan PKI?

Q: (…)

A: (…)

Q: Maaf, Bung, itu … terlalu konyol untuk saya klarifikasi

*versi suntingan dari tulisan ini telah terbit di website LPM Siar dengan judul yang sama pada 2 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s