Tahlilan

Surat Yaasiin terdengar lamat-lamat dari mulut Ibuk. Padahal seingatku, Ibuk adalah tipe orang yang bacaannya nyaring saat mengaji. Duduk berseberangan dengan Ibuk membuatku leluasa memperhatikannya. Mataku bolak-balik antara buku Yaasiin dan Ibuk. Duduk tegap pasti membuat tubuh tuanya capek. Mestinya ia bersandar saja ke tembok di belakangnya, namun hal itu tak kunjung ia lakukan, seteliti … Lanjutkan membaca Tahlilan

Wawancara Imajiner dengan D.N. Aidit

Orang itu tersenyum masam ketika saya menunjukkan deretan film G30S/PKI di Youtube. Ia bertanya apakah semua orang menonton film tersebut. Saya bilang tidak. Dulu memang menjadi tontonan wajib, tapi sekarang siapa pula yang mau menonton film berdurasi empat jam dengan resolusi dan pencahayaan yang buruk begitu? Bikin ngantuk saja. Ia terdiam. Matanya jauh menerawang. Mungkin, … Lanjutkan membaca Wawancara Imajiner dengan D.N. Aidit

Sejumlah Pertanyaan untuk Admin Saluran Film Ilegal di Telegram

Tempo hari, tepatnya pada 30 Maret 2021, kita merayakan hari Film Nasional. Di tengah pandemi, industri film tanah air masih punya permasalahan klasik, yakni pembajakan film. Hal tersebut kian menjamur akibat ditutupnya bioskop-bioskop dan ditayangkannya banyak film melalui situs web atau aplikasi. Alih-alih mengeluarkan uang untuk menonton film secara legal dan berbayar, sebagian orang—yang jumlahnya … Lanjutkan membaca Sejumlah Pertanyaan untuk Admin Saluran Film Ilegal di Telegram

Doktrin “Kritik yang Membangun”, Sebuah Bentuk Antikritik

Sungguh sebuah kehormatan dan kebahagiaan, ketika Presiden Jokowi meminta saya agar lebih aktif mengkritik Pemerintah. Ya, saya tidak halu atau salah ketik. Dalam acara Peluncuran Laporan Tahunan Ombudsman RI, Senin (8/2), Presiden Jokowi meminta masyarakat lebih aktif mengkritik kinerja Pemerintah di bidang pelayanan publik:  "Masyarakat harus lebih aktif menyampaikan kritik, masukan, atau potensi maladministrasi, dan … Lanjutkan membaca Doktrin “Kritik yang Membangun”, Sebuah Bentuk Antikritik

Ratna Herang

“Anda tidak mau duduk?” Setelah berkali-kali kupersilakan duduk, perempuan di hadapanku itu akhirnya duduk. Penampilan perempuan itu terlalu bagus untuk seseorang yang—mungkin—tidak waras. Hari itu, ia menyebabkan keributan di museum tempat kerjaku. Di hadapan banyak pengunjung, ia menari, menyanyi, bahkan mengambil sebuah selendang kuning yang merupakan benda bersejarah. “Nama? ” tanyaku. “Ratna Herang,” katanya kemudian. … Lanjutkan membaca Ratna Herang