Setelah bersinggungan dengan banyak orang, Isah akhirnya menyadari bahwa keadaban seseorang tidak lantas diwakili oleh kulitnya yang putih; begitu pula dengan kebiadaban yang tidak lantas diwakili oleh kulit cokelat. Status dan kedudukan Isah tidak memungkinkan dirinya untuk menyuarakan pandangannya kepada orang lain. Kritik-kritiknya berhenti dalam pikiran, dan tak seorang pun menganggap pikirannya sebagai hal yang penting. Namun, hal ini tidak mengurangi nilai pemikiran seorang Isah, wanita pribumi yang mewakili suatu babak kelam dalam sejarah Indonesia.
Tionghoa, Gerwani, dan Penindasan Perempuan dalam Novel Dari dalam Kubur
Dalam dunia kesusastraan Indonesia, para pengarang sempat disebut ‘latah’ karena kompak mengangkat isu ʻ65 ke dalam karya-karyanya. Hingga kini, kita memang banyak menemukan karya sastra berlatar tahun 1965 yang tentu tidak lepas dari kisah-kisah seputar pemberontakan PKI, genosida, dan segala sesuatu yang terkait dengan itu. Menceritakan isu ‘65 dari berbagai sudut pandang menjadi tren. Akan … Lanjutkan membaca Tionghoa, Gerwani, dan Penindasan Perempuan dalam Novel Dari dalam Kubur
Parade Hantu Siang Bolong: Cerita-Cerita Unik dalam Penuturan Jurnalistik
Jika Indonesia adalah buku, genrenya pasti realisme magis. Sebagai salah satu gaya sastra, realisme magis merupakan gaya bercerita yang menempatkan hal-hal mistis sebagai sesuatu yang lumrah dan tidak terpisahkan dari keseharian manusia. Gabriel Garcia Marquez alias Gabo, sastrawan cum jurnalis asal Kolombia, adalah ‘Bapak’ genre ini. Di Indonesia, realisme magis yang terkenal dapat kita temukan pada … Lanjutkan membaca Parade Hantu Siang Bolong: Cerita-Cerita Unik dalam Penuturan Jurnalistik
Order-an Pagi-Pagi
“Maaf, Mas, nanti bisa agak ngebut sedikit nggak, ya? Saya buru-buru soalnya.” “Diusahakan. Silakan, Mbak, helmnya.” “Oh! sebentar, Mas.” Bukannya mengambil helm yang kuserahkan, perempuan ini justru berlari ke dalam rumahnya dan keluar lagi membawa helm miliknya sendiri. Ia lantas sekonyong-konyong menyemprot jok motorku dengan botol spray. Entah itu disinfektan, handsanitizer, atau apalah, aku sudah … Lanjutkan membaca Order-an Pagi-Pagi
Sayembara Membujuk Kusen
Bersamaan dengan kokok ayam dan kumandang ar-Rahman dari langgar, terdengar suara gedebuk dari rumah Kusen. Apa yang disebut ʻrumah’ itu sejatinya hanya gubuk kecil berukuran 3x2 meter berbahan tripleks, sehingga suara dari dalamnya akan mudah kedengaran dari luar. Warga kampungku yang dari tadi mengintai kemudian bergegas memasuki gubuk Kusen, agak berjingkat dengan kehati-hatian khas pencuri. … Lanjutkan membaca Sayembara Membujuk Kusen
Tahlilan
Surat Yasin terdengar lamat-lamat dari mulut Ibuk. Padahal seingatku, Ibuk adalah tipe orang yang bacaannya nyaring saat mengaji. Duduk berseberangan dengan Ibuk membuatku leluasa memperhatikannya. Mataku bolak-balik antara buku Yasin dan Ibuk. Duduk tegap pasti membuat tubuh tuanya capek. Mestinya ia bersandar saja ke tembok di belakangnya, namun hal itu tak kunjung ia lakukan, seteliti … Lanjutkan membaca Tahlilan